Kalau ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih aku ingat, itu adalah saat mataku tiba-tiba terasa sangat tidak nyaman di tengah kesibukan mengisi rapor siswa. Sebagai guru, masa pembagian rapor itu salah satu periode yang paling padat. Hampir semua pekerjaan dilakukan di depan laptop. Mulai dari mengecek nilai, memastikan tidak ada data yang salah, sampai menyelesaikan administrasi yang harus selesai sebelum batas waktu.

Karena pekerjaannya banyak, otomatis hampir seharian aku menatap layar. Awalnya semuanya berjalan normal. Sampai suatu pagi, mataku mulai terasa berbeda.

Pertama kali yang kurasakan adalah mata mulai sepet. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tidak lama kemudian muncul rasa perih, apalagi setiap kali melihat layar laptop atau ponsel. Cahaya dari layar terasa menyilaukan dan membuat mata semakin tidak nyaman.

Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya. Dalam pikiranku, "Ah, mungkin cuma iritasi biasa."

Karena mengira semua sakit mata penanganannya sama, aku langsung membeli obat tetes mata tanpa mencari tahu dulu penyebabnya. Kupikir setelah diteteskan nanti akan langsung membaik dan aku bisa kembali bekerja seperti biasa.

Sayangnya, yang terjadi justru berbeda.

Setelah beberapa kali digunakan, mataku tetap terasa sepet dan perih. Tidak ada perubahan yang berarti. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa tidak kunjung membaik? Padahal aku sudah menggunakan obat tetes mata.

Dari situlah aku baru sadar kalau mungkin aku salah menangani masalahnya.

Aku akhirnya berhenti asal menebak-nebak. Aku mulai mencari informasi lewat internet mengenai gejala yang sedang aku alami. Aku membaca beberapa artikel kesehatan dan mencoba mencocokkan satu per satu dengan kondisi mataku.

Gejala yang aku alami ternyata hampir semuanya mengarah ke mata kering.

Saat itu aku baru tahu bahwa tidak semua sakit mata disebabkan oleh hal yang sama. Ada mata merah karena iritasi, ada infeksi, ada alergi, dan ada juga mata kering. Masing-masing membutuhkan penanganan yang berbeda. Jadi, kalau salah memilih produk, hasilnya memang bisa saja tidak sesuai harapan.

Aku jadi berpikir, "Pantas saja dari kemarin tidak kunjung membaik."

Karena sudah tahu kemungkinan penyebabnya, aku mulai mengubah kebiasaanku.

Aku mengurangi menatap layar laptop dan ponsel terlalu lama. Jujur saja, waktu itu melihat cahaya layar terasa sangat menyiksa. Baru beberapa menit menatap monitor, mata langsung terasa perih lagi. Akhirnya aku sering menutup mata beberapa saat sebelum melanjutkan pekerjaan.

Aku juga berusaha lebih sering berkedip karena ternyata saat terlalu fokus bekerja, kita sering lupa berkedip sehingga mata menjadi lebih cepat kering.

Selain itu, aku mulai memberi jeda setiap beberapa waktu agar mata punya kesempatan beristirahat. Aku juga memperbanyak minum air putih supaya tubuh tetap terhidrasi.

Masalahnya, saat itu aku sedang berada di masa yang tidak memungkinkan untuk benar-benar berhenti bekerja.

Aku sedang mengisi rapor.

Sebagai guru, mengisi rapor bukan pekerjaan yang bisa ditunda terlalu lama. Ada batas waktu yang harus dipenuhi. Nilai harus dicek ulang, deskripsi harus ditulis, lalu semua data harus dipastikan benar sebelum dibagikan kepada siswa.

Karena kondisi mata yang tidak nyaman, pekerjaanku jadi jauh lebih lambat dari biasanya.

Aku beberapa kali harus menghentikan pekerjaan karena mata terasa semakin perih setiap kali melihat layar. Rasanya ingin cepat selesai, tetapi mata justru tidak mau diajak bekerja sama.

Jujur saja, saat itu yang ada di pikiranku cuma satu.

"Aku harus cepat sembuh."

Bukan karena tidak suka beristirahat, tetapi karena tanggung jawab pekerjaan memang harus diselesaikan.

Setelah mengetahui bahwa kemungkinan besar yang aku alami adalah gejala mata kering, aku kembali mencari produk yang memang ditujukan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut.

Dari hasil browsing itulah aku menemukan Insto Dry Eyes.

Aku membaca informasi mengenai produknya dan merasa sesuai dengan gejala yang sedang aku alami, yaitu mata terasa sepet dan perih akibat mata kering.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya.

Kesan pertama saat menggunakan Insto Dry Eyes adalah ada sensasi yang menenangkan di mata. Perlahan rasa tidak nyaman mulai berkurang. Mata terasa lebih lembap sehingga aku bisa kembali bekerja dengan lebih nyaman dibanding sebelumnya.

Pengalaman itu membuatku belajar satu hal yang menurutku penting.

Kalau mata terasa tidak nyaman, jangan langsung menganggap semua sakit mata itu sama.

Kenali dulu gejalanya.

Kalau gejalanya mengarah ke mata kering, seperti mata terasa sepet, perih, atau tidak nyaman setelah terlalu lama menatap layar, berarti penanganannya juga harus disesuaikan.

Selain menggunakan tetes mata yang sesuai, ada beberapa kebiasaan sederhana yang sekarang selalu aku lakukan agar gejala mata kering tidak mudah muncul lagi.

Aku berusaha mengurangi screen time kalau memang tidak diperlukan.

Aku memberi jeda ketika bekerja lama di depan laptop.

Aku lebih sering berkedip agar mata tetap lembap.

Aku mengalihkan pandangan ke objek yang jauh selama beberapa detik setelah lama menatap layar.

Aku juga memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi dengan minum air putih yang cukup.

Hal-hal sederhana seperti itu ternyata sangat membantu menjaga kenyamanan mata.

Sekarang setiap kali memasuki masa sibuk, seperti mengerjakan administrasi sekolah atau mengisi rapor, aku jadi jauh lebih memperhatikan kesehatan mata. Karena aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya ketika pekerjaan penting harus tertunda hanya karena mata terasa sepet dan perih.

Buatku, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mata tidak boleh disepelekan. Jangan asal memilih obat tetes mata hanya karena mengira semua sakit mata itu sama. Kenali dulu gejalanya, cari tahu penyebabnya, lalu gunakan penanganan yang sesuai.

Karena saat mata terasa nyaman, bekerja pun jadi lebih fokus, lebih cepat selesai, dan kita bisa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa terganggu oleh rasa tidak nyaman di mata.

Post a Comment